Seminar yang digagas oleh Senat Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi bermuara pada satu pandangan bahwa sains didayagunakan untuk mensejahterakan manusia di tengah arus globalisasi dunia. [2] Kemajuan sains dan teknologi telah didorong kuat oleh perkembangan gabungan media, telekomunikasi dan komputer, sehingga dunia telah berubah menjadi “kecil” seperti suatu “desa global ”, dimana orang dengan cepat dapat mengetahui apa yang terjadi dibagian lainnya dari “desa” itu.[3]
Sesuai dengan ramalan Alfin Tofler bahwa zaman kini dan yang akan datang dunia berada pada “gelombang ketiga”, yaitu zaman komunikasi, maka peradaban manusia adalah perabadan Hitech (teknologi tinggi) yang menyebar luas dalam waktu yang singkat[4] Salah satu faktor determinan untuk menang dalam era globalisasi ini, pendayagunaan sains dan teknologi diyakini mutlak penting. Paradigma ini tidak saja dinyatakan oleh Sachs (1995), Toffler (1990), Reich (1991) dan Quinn (1992) untuk menyebut hanya empat orang saja, namun juga oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY dalam kuliah umum di Universitas Indonesia (6 Agustus 2007) dan Universitas Airlangga (4 September 2007) menegaskan pentingnya sains dan teknologi (Iptek) dan upaya memicu perkembangannya, khususnya melalui riset. Bahkan lebih tegas lagi Presiden SBY menyatakan: Jika kita mampu membuat sendiri segala produk teknologi yang kita butuhkan, mengapa kita harus melakukan impor.
Oleh karena itulah, melalui kegiatan seminar ini, saya ingin memberikan beberapa catatan penting terkait dengan pendayagunaan sains dan teknologi dalam menghadapi tantangan dunia global. Namun sebelum pokok pembahasan tersebut diberikan, berikut ini dijelaskan terlebih dahulu tentang posisi kemampuan sains dan teknologi, daya saing bangsa dan kualitas perguruan tinggi. Sains dan teknologi global kemudian tantangan pendayagunaan sains dan teknologi serta diakhiri dengan penutup.
A. Posisi Kemampuan Sains dan Teknologi, Daya Saing Bangsa dan Kualitas Perguruan Tinggi.
1. Kontribusi negara-negara Islam terhadap Karya Ilmiah Dunia
Science Citation Index 2004 menunjukkan hasil risetnya bahwa sebanyak 46 negara Islam memberi kontribusi hanya 1,17 persen saja pada penerbitan karya ilmiah dunia. Angka ini lebih rendah bila dibandingkan dengan sumbangan India sebesar 1,66 persen dan Spanyol 1,48 persen. Selanjutnya sebanyak 20 negara Arab menyumbang hanya 0,55 persen dari total karya ilmiah dunia. Sedangkan Israel menyumbang 0,89 persen, Jerman 7,7 persen, Inggris 7,9 persen, Jepang 8,2 persen dan Amerika 30,8 persen.
Disamping itu, negara-negara Islam hanya mengalokasikan anggaran belanja sebanyak 0,45 persen saja dari GNP untuk pengembangan IPTEK. Sedangkan negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menghabiskan dana sebanyak 2,30 persen dari GNP untuk keperluan yang sama. Ketersediaan SDM untuk mendukung kegiatan riset dan pengembangan di negara-negara Islam juga terbatas. Rata-rata negara Islam memiliki 8,8 ilmuwan, insinyur dan teknisi per 1000 penduduk, dibandingkan dengan negara-negara OECD yang memiliki 139,3 atau 40,7 di negara-negara maju di luar OECD.
Oleh karena itu, Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO, 2000) melaporkan, sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia. Mereka mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan sebanyak 73% cadangan minyak dunia. Namun gabungan negara itu ternyata hanya memiliki GNP sebesar 1,016 miliar dolar AS. Sedangkan Perancis, negara yang hanya berpenduduk 57,6 juta jiwa dan mendiami wilayah hanya 0,552 juta kilometer persegi, memiliki GNP sebanyak 1,293 miliar dolar AS.
ISESCO juga melaporkan hasil risetnya bahwa negara-negara Islam hanya mengalokasikan anggaran belanja sebanyak 0,45 persen saja dari GNP untuk pengembangan IPTEK. Sedangkan negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menghabiskan dana sebanyak 2,30 persen dari GNP untuk keperluan yang sama.
2. Daya Saing Bangsa
Dilihat dari segi daya saing manusia, bangsa kita tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti dalam tabel berikut ini:
C. Tantangan Pendayagunaan Sains dan Teknologi
Dari kemajuan-kemajuan sains tersebut memungkinkan akan menumbuhkan materialisme dan rasionalisme tanpa mengindahkan nilai-nilai agama bahkan bisa jadi akan menuhankan kemajuan sains diatas segala-galanya sebagai kekuatan hidup, sehingga hal itu mampu merubah pola kemasyarakatan, pola pikir dan gaya hidup manusia yang lebih konsumtif dan hedonistik. Apabila kehidupan manusia dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan tentang sains, maka pengetahuan tentang sains dari suatu bangsa akan dipengaruhi pula oleh sejauh mana pengetahuan masyarakat dari bangsa tersebut tentang sains yang pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dari bangsa tersebut. Bahkan Bacon berpendapat “iptek harus digunakan untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi, iptek hanya berarti bila nampak dalam kekuasaan manusia; iptek manusia adalah kekuasaan manusia”.
Era global yang ditandai dengan perkembangan sains dan kecanggihan teknologi, persebaran informasi, interaksi ekonomi-bisnis, dan kebijakan politik internasional merupakan tantangan besar kemanusiaan saat ini.[9] Dengan teknologi komunikasi dan informasi dunia memang terasa menjadi sempit dan kecil. Tanpa keimanan, kecanggihan produk Iptek tersebut dapat mendorong manusia ke sikap sombong dan melupakan Tuhan. Tanpa pegangan iman pola kehidupan yang makin mengglobal ini akan mudah membawa orang-orang terombang-ambing, terlanda stress dan ketersaingan. Tetapi dengan keimanan orang akan tangguh menghadapinya karena proses tersebut dipamahi sebagai bagian dari sunnatullah yang tak mungkin dihindari.
Sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia, umat Islam harus mampu menggali dan mendayagunakan ajaran agamanya di dalam mendayagunakan sains dan teknologi untuk menjawab tantangan dunia global. Umat Islam harus memelopori dan membawa bangsa ini tampil di gelanggang percaturan dan persaingan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang beriman dan bertakwa. Ini sekaligus merupakan upaya konkrit untuk turut mengarahkan aliran arus globalisasi yang kian hari kian menggoda dan menantang.